Mengontrol Sebatang Rokok

[Buat lomba nulis]

Sebatang, dua batang, tiga, batang. Lama-lama habislah sebungkus. Biasanya itulah yang terjadi saat orang menikmati puntung-puntung kenikmatan itu. Nikmat? Memang! Biarkan para perokok bersaksi, betapa melenakannya sebuah benda kecil yang bernama ‘rokok’.

Tak ayal, rokok kini merambah semua kalangan. Mulai dari kakek-kakek, nenek nenek, bapak tukang koran, bos eksekutif, ibu sekretaris, pegawai bank, ibu rumah tangga, anak kuliahan, anak sekolah, dan yang paling mengiris hati adalah bayi-bayi perokok yang diberitakan media massa. Coba bayangkan, betapa berkuasanya si rokok atas masyarakat kita. Kini kitalah yang harus bergerak!

Akar masalah merajalelanya rokok dalam masyarakat kita bukanlah ketidaktahuan mereka mengenai bahaya merokok. Berkali-kali pegiat gerakan anti rokok mengingatkan bahaya merokok bagi masyarakat, dan saya rasa masyarakat sendiri sudah tahu akan bahayanya. Ditambah lagi peringatan “merokok dapat menyebabkan…” disertai gambar penyakit mengerikan yang tercantum dalam setiap bungkus rokok yang terbeli. Seperti ada yang salah dengan masyarakat kita, sudah diberitahu malah makin menjadi.

Di sisi lain, adalah sebuah ironi saat kita sadar bahwa akses untuk mendapatkan rokok sangat mudah. Di sudut kota manapun benda ini bisa dengan mudah kita dapatkan, dari pedagang asongan, toko kelontong, hingga supermarket besar. Harganya? Tak usah ditanya, uang jajan anak sekolah pun mampu membeli beberapa batang benda semi-terlarang ini.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perusahaan rokok ‘menancapkan kukunya’ dalam kehidupan kita. Iklan rokok secara terang-terangan di televisi, billboard besar di pinggir jalan, poster, spanduk, dan media-media lainnya menampilkan ‘kegagahan’ dan image ‘keren’ melalui penggambaran dan slogan-slogannya. Meski tak secara langsung mengiklankan si rokok, masyarakat menjadi aware dengan adanya iklan dimana-mana yang secara tidak langsung menjadi sarana pencucian otak bagi kita juga. Di samping itu, secara tidak sadar rokok telah menjadi bagian dari hidup kita. Perusahaan rokok yang memiliki dana berlimpah seringkali mensponsori acara-acara yang diadakan di negeri ini, seperti konser-konser musik, bazaar, pameran-pameran, dan acara lainnya. Mungkin kita juga telah menjadi salah satu penerima ‘manfaat’ keberadaan perusahaan rokok di Indonesia.

Tidak adanya aturan tegas mengenai rokok menjadi salah satu penyebab mudahnya rokok meracuni masyarakat kita. Patokan harga yang dirasa terlalu murah, bahkan tidak sebanding dengan mahalnya biaya yang akan dikeluarkan jika terkena bahaya rokok itu sendiri harusnya lebih diperhatikan para pembuat peraturan. Kendornya aturan tentang merokok di tempat umum juga menjadi masalah utama. Apalah gunanya peraturan jika tak dibarengi dengan pengawasan dan sanksi yang tegas. Sudah banyak peraturan di sana-sini, namun dengan santainya perokok masih melanggar aturan tersebut.

Untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan rokok, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai kalangan, baik masyarakat, maupun pemerintah melalui edukasi, penyuluhan, dan diberlakukannya aturan yang tegas bagi perusahaan rokok serta pengawasan aturan tentang kawasan dilarang merokok. Perokok aktif pun harusnya turut serta dalam upaya meminimalisasi akibat yang ditimbulkan kegiatan merokoknya dengan cara mematuhi aturan-aturan yang ada. Perokok pasif juga harus memperjuangkan haknya atas udara bersih dan tidak tercemar asap rokok dengan berani menegur bila ada perokok yang merokok tidak pada tempatnya.

Rokok bukan hanya menjadi bahaya bagi perokok aktif saja, rokok telah menjadi ancaman bagi kita semua. Demi orang-orang yang kita sayangi, demi generasi penerus bangsa ini, mari bersama-sama kita lawan bahaya rokok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s