Sekarang sudah bulan November…

Musim hujan sudah datang. Membawa jutaan kubik air turun ke bumi, rindu lautankah? Aroma tanah basah yang kini bisa kubaui setiap hari, siapa yang tak suka?  Meski dingin, namun terasa hangat jika ditemani secangkir kopi. Jika tak suka, teh pun bisa kau nikmati. Atau secangkir coklat panas? Ah, sesukamu saja.

Rintik hujan kini menyapa. Dari jendela yang sedikit kubuka, agar cipratannya dapat kurasa. Aku tak menunggu kau reda, turunlah hingga kubisa melihatnya. Menikmati hujan seperti ini, entah mengapa sangat kusuka. Romantis? Ah tidak, hanya manis. Semanis pelangi yang muncul setelahnya.

Lalu kutengok penunjuk tanggal. November. Ya, ini sudah bulan November. Sebentar lagi Desember, setelah itu Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni… Masih ada beberapa bulan lagi. Mungkin sebaiknya tak kupikirkan. Waktu tak pernah lari dari takdirnya, ia tak kan berhenti, mundur, atau bahkan maju lebih cepat. Ia akan berjalan sebagaimana yang ditetapkan-Nya. Dan biarkan aku hanyut di dalamnya, melalui detik demi detik yang berharga. Kembali menikmati hujan dari balik jendela.

Waktu akan terasa begitu berarti saat engkau telah melewatinya. Itu hal yang wajar. Karena sesuatu yang berharga, biasanya terlambat untuk kita sadari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s