Akhir (?)

Siapa yang tahu, jika sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya justru benar-benar terjadi. Worst case-nya udah terlanjur kejadian. Dan belum ada persiapan apapun, ah tidakkk! Aku gak kuat… Suatu masa yang kita tahu akan ada akhirnya. Pada setiap awalan, selalu ada harapan agar kedepannya saat itu dapat terlewati dengan baik. Banyak bermimpi bukan hal yang baik jika tak direalisasikan dalam kenyataan. Dan itu salahnya, sesuatu yang tak mungkin justru dipaksa dan dianggap mungkin. Petjah? Ya, sangat. Hancur berkeping-keping. Bagai balon ditiup terlalu kencang, kapasitasnya gak muat kan. Ah basa-basi.  Bukan itu yang mau diomongin. Toh sudah kejadian, ya mau apalagi? Singkat cerita, inilah akhirnya. Harusnya bukan benar-benar akhir. Karena jalan ini tak akan berakhir sampai kapanpun, bahkan jika kita pergi meninggalkannya. Karena Allah yang telah berjanji, jika kita berpaling maka Ia akan menggantinya dengan orang-orang yang lebih baik. Teringat ‘doktrin’ yang kudapat waktu itu, bukan jalan ini yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang butuh untuk ada di jalan ini, jalan keselamatan. Jadi mengapa harus pergi?😦 Ah benar juga, bersama di sini memang gak mudah, gak enak, makan hati, bikin kesel, hampir gila (gakdeng), menyita banyak waktu, tenaga, pikiran, bikin capek, bikin pusing, bikin kere dll dll dll. Kayaknya banyak banget pahitnya. Tapi tak ingatkah manisnya? Teman-teman yang menguatkan di kala sedih, semua bantuan dari mereka yang terasa ketulusannya, untaian do’a dari sahabat-sahabat seperjuangan. Dalam ukhuwahnya kita pernah berjalan beriringan. Hanya satu yang diperjuangkan, agama-Nya. Namun seiring waktu berlalu. Wusssshhhhhhhhh. Badai itu datang menerjang. Menghapus segala yang indah, menyisakan puing-puing dari hati yang berserakan. Penyakit itu mulai melanda, dengki, benci, amarah, prasangka. Mengotori kanvas penuh warna kita, hingga hanya noda yang terlihat oleh mata. Lukisan kita, banyak yang coba membersihkannya dari kotoran itu. Bukan bersih dari noda, justru warnanya malah ikut memudar. Semua kenangan itu seakan sirna, tak berbekas dalam ingatan. Sakit, mungkin ukhuwah itu juga meradang. Mempertanyakan kemana perginya segala yang harusnya masih bertahan. “…karena saat ikatan kita melemah, saat keakraban kita merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai. Aku tahu,yang rombeng bukan ukhuwah kita. Hanya iman-iman kita yang sedang sakit atau mengerdil. Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja. Tentu terlebih sering, imanku lah yang compang camping.” (Dalam Dekapan Ukhuwah – Salim A. Fillah) Yeah, nampar banget. Memang lebih sering imanku yang compang-camping😦 Astaghfirullah… Jadi, inikah akhirnya? Satu persatu dari kita mulai pergi. Seperti daun yang berguguran dari tangkainya? Ah kawan, kita harusnya tidak semenyedihkan daun di musim gugur. Bisakah kita menjelma saja menjadi bunga yang mekar di musim semi? Mengulang segalanya dari hari yang baru, awal yang baru. Tapi mungkin bukan di sini lagi tempatnya. Jalan ini masih terbentang panjang. Ya, kuharap saat kubuka mataku nanti, akhir yang akan kita lalui adalah akhir yang baik bagi kita semua… Akhir yang menjadi awal dari kita yang baru, yang telah berkembang lebih baik dari sejak awal kita semua ada di sini. Kuharap…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s